KAMI SUDAH LELAH DENGAN KEKERASAN!

Dalam 2-3 hari ini, di grup whatsApp, mendapatkan berbagai berita tentang “testamen Munir”, sebagai respon atas peringatan dibunuhnya Munir. Testamen berarti wasiat atau pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki. Dengan kata lain, wasiat adalah suatu pernyataan dari seseorang tentang apa yang dikehendaki setelah ia meninggal. Ini mengandung arti, rangkaian peristiwa itu menjadi semacam penanda, pengingat, dan alarm kepada kita yang masih hidup atas dua hal: Cak Munir dibunuh, sampai sekarang tidak diketahui pelakunya dan Semangat Cak Munir akan tetap menyala, berlipat ganda.

Kami sudah lelah dengan kekerasan, sebuah statemen dalam yang diungkapkan Cak untuk memberikan penegasan bahwa kekerasan itu buruk, terlebih kekerasan yang dilakukan oleh dan atas nama Negara, Korporasi, Kekuasaan, dan tentu saja ujungnya segepok kekayaan untuk pribadi. Ujungnya pula, kekayaan itu digunakan untuk membiayai pelanggengan Kekuasaan.

Saya menunggu momentum 7 September 2020, untuk menemui puncak testamen Munir itu, sekaligus merefleksi bahwa situasi kian memburuk. Terlebih, beberapa hari yang lalu, saya juga merasakan betapa gelapnya kekerasan itu. Saya mengalami pemukulan dalam sebuah aksi penolakan Omnibus Law RUU Cipta Kerja, di Muara Enim. Pelakunya juga buruh yang menerima upah, dan pasti akan mengalami kesengsaraan ketika nanti Omnibus ini disahkan. Lebih buruk lagi, salah satu pimpinan dalam pembubaran aksi yang berujung pemukulan itu, bersuara keras,”Saya juga orang serikat!”. Meskipun saya tahu, tak pantas dia mendaku hal itu, sebab hati dan tindakannya lebih condong kepada majikannya, bukan buruh-buruh yang sedang aksi.

Aksi Menolak Omnibus Law di Muara Enim, Sumatera Selatan.
Aksi Menolak Omnibus Law di Muara Enim, Sumatera Selatan.

Proses hukum terus berjalan, saya akan bersetia mengikutinya. KPBI memastikan memberikan pendampingan terbaik. LBH Palembang dan YLBHI juga mendukung saya dengan, SERBUK tentu berada dalam deretan depan untuk membela. Dan dari Kuala Lumpur serta Jenewa, saya mendapatkan kepastian bahwa BWI Global Union memastikan berdiri bersama saya dan kawan-kawan. Mereka akan berjuang memberikan tekanan kepada perusahaan, pabrik pengolahan bubur kertas itu wajib tahu bahwa hukum tak bisa dibuat main-main. Perusahaan punya pasar di Eropa, Asia, Australia, ada dokumen-dokumen yang harus mereka pertanggungjawabkan.

“Perusahaan multinasional, semestinya bermartabat, bukan justru menunjukkan sikap bar-bar seperti preman,” ujar seorang kawan dalam sebuah pesan. Pesan yang dalam, dikirimkan dari negera jauh, melaluipesan pendek ke dalam handphone saya.

Terima kasih. Aku, saya, kami, kita semuanya: satu suara dalam mengatakan benci dan lelah dengan kekerasan!

Takzimku untukmu, Cak! Namamu melekat dalam setiap kata yang kutuangkan!

(Muara Enim, menuju 7 September 2020.)

BAGIKAN