“UNTUK PARA PEMIMPINKU, SELAMAT HARI BURUH INTERNASIONAL”

(Pesan May Day dari Irawan dan Nando)

Namaku Irawan, buruh outsourcing PLN dari Denpasar, Bali. Bekerja sudah 15 tahun, tetap jadi buruh outsourcing. Akhir 2013, aku mengalami kecelakaan ketika sedang memperbaiki gardu listrik; tubuhku tersengat listrik pada tiang yang tinggi. 80% tubuhku luka bakar, dirawat, dan tidak bekerja. Vendor memecatku, tanpa pesangon dan kecelakaan kerjaku tak juga diurus. Atas bantuan kawan-kawan kompensasi kecelakaanku dari Jamsostek cair, tapi aku hanya menerima uang Rp. 53 juta, sisanya sebesar Rp. 35 juta diambil pegawai Jamsostek tanpa seijinku.

Aku dipecat dan tak punya pekerjaan lagi. Inilah nasib buruh outsourcing, kerja bertahun-tahun, dengan upah pas-pasan, diperas tenaganya, dan setelah dianggap tak berguna dibuang. Harapanku untuk menjadi buruh tetap hanya mimpi. Perusahaan milik negara tak peduli denganku yang tidak pernah dianggap sebagai buruhnya. Orang bilang, inilah dampak dari privatisasi. Privatisasi artinya: listrik yang jadi kebutuhan rakyat banyak, dijadikan komoditi, tak boleh lagi ada subsidi, boleh dikerjakan oleh swasta. Privatisasi juga berarti tak ada lagi buruh tetap, semua dijadikan kontrak/outsourcing. Sesudah kecelakaan kerja, tubuhku cacat, lalu bagaimana nasib pendidikan anak-anakku? Tak ada lagi pabrik yang mau menerimaku yang cacat, tak bisa kerja katanya.

Namaku Nando, buruh PLTU yang jauh di pedalaman Sumatera Selatan. Perusahaan ini, adalah kongsi bisnis Indonesia dengan Tiongkok, proyek pertama yang dibiayai oleh BUMN dari negeri Tiongkok. Statusku sama seperti Irawan, buruh outsourcing. Listrik yang kami produksi, dijual ke PLN, kemudin dialirkan PLN ke Kota Padang, Bengkul, dan Lampung. Tapi ironisnya, listrik di kampungku sehari mati lebih dari5 kali. Privatisasi listrik itu sesuatu yang nyata. Aku dan Irawan adalah buruh yang sama bekerja, menghasilkan listrik sebagai kebutuhan pokok nan vital, tapi nasib kami sama saja. Dua bulan lalu, perusahaan vendor tempatku bekerja dibubarkan dengan alasan pekerjaan sudah tidak ada, lalu aku dipecat. Itu terjadi sesudah serikatku menuntut kenaikan upah sektoral. Bulan depan, istriku melahirkan anak kedua. Lalu aku bertanya; bagaimana biaya melahirkan? Bagaimana biaya kesehatan keluargaku?

Menjelang May Day tahun ini, kubaca selebaran, poster, spanduk, stiker, selebaran. Kalian berbicara tentang Neoliberalisme alias Penjajahan Gaya Baru. Tentang tekanan negeri asing yang jauh yang menggelontorkan uang untuk investasi. Lalu, katanya, Pemimpin negeri ini tunduk dan bersedia mengubah hukum, demi kemudahan investasi. Tapi yang kami tahu, hukum itulah yang sekarang tak berpihak pada kami. Neoliberalisme yang kalian orasikan itu, nyata sekali masuk ke bilik bambu kamar kamu, rumah petak 3×4 meter tempat kami hidup sehari-hari. Kami tak terlalu paham, apa itu kapitalisme, imperealisme, neoliberalisme. Yang kami tahu hidup makin sempit saja.

Aku, Irawan, dan jutaan buruh lainnya seolah manusia tak berdaya yang menunggu hukuman mati. Bekerja jadi buruh outsourcing, upahnya rendah, jam kerja panjang, keselamatan kami tak terjaga kesehatan kami ditukar dengan target produksi, kami dipecat dan tak lagi bekerja. Ketika kami mogok kerja membela hak, polisi dan tentara datang berkompi-kompi, menjaga objek vital katanya. Mereka bilang, ini tahun politik, juga sebentar lagi pesta olah raga Asian Games akan digelar. Kami tak boleh banyak ulah, agar semua aman. Mereka bicara keamanan, tapi membiarkan kami merasa terancam. Ini semua, tak kami pahami apa maknanya.

May Day 2018, hiruk pikuk kudengar suara kalian. Berbicara dengan kepal tangan ke angkasa, suara dinyaringkan, bendera ditinggikan, dan semua dikemukakan. Seolah, inilah hari penghabisan. Kudengar kalian menyerukan persatuan, mengajak perjuangan. tapi sampai kami kami menunggu?

Kutahu May Day yang dipersiapkan berbulan-bulan itu cuma terjadi sehari, apakah besok berhenti lagi? Kubaca janji kalian untuk terus berkonsolidasi, kudengar ajakan kalian untuk bikin partai, kutahu niat kalian untuk terus menggugat negara, lalu apa sesudahnya?

Irawan dan Nando, sama seperti jutan buruh di pabrik-pabrik, di kantor-kantor, di bengkel-bengkel, di pertambangan, di perkebunan, dan tempat lain para buruh bekerja diperas keringat dan harapannya. Mereka, akan bersetia untuk berjuang bersama. Tapi apakah kalian juga sama? Perjuangan itu kerja nyata, tak bisa menunggu lebih lama. Besok pagi, sesudah May Day ini usai, bergeraklah selalu. Susunlah rencana, kunjungi kami di basis-basis, temui kami di tempat kerja. Kuatkan kami dan libatkan kami membangun mimpi. Jangan tinggalkan kami lagi.

Kepada kalian,para pemimpin serikat buruh yang kami cintai, terimalah salam kami: Selamat hari buruh Internasional 2018. Jangan ulangi kesalahan-kesalahan tahun-tahun yang telah lewat!

BAGIKAN