Solidaritas Global adalah Kunci Perjuangan Kita Saat Ini dan di Masa Mendatang!

Bekerja pada perusahaan yang menjalankan proyek yang dibiayai dengan skema Belt Road Initiative (BRI), untuk pemenuhan kebutuhan listrik 35 megawatt yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, seharusnya menjadikan pekerja berada dalam posisi yang menguntungkan. Dalam pandangan Yolanda, ketika proyek infrastruktur yang dikerjakan tersebut merupakan proyek strategius nasional dengan prioritas utama, seharusnya kesejahteraan pekerja juga diprioritaskan. “kenyataannya, kami mendapatkan kondisi yang sebaliknya,” tegas Yolanda.

Mulai bekerja pada September 2019, Yolanda kemudian bergabung dengan Serikat Buruh yang baru saja terbentuk di tempatnya bekerja pada Desember 2019. Pengalaman bergabung dengan serikat buruh, membuatnya menemukan pengalaman-pengalaman baru yang tidak terbayangkan selama dirinya sekolah. Awalnya, ketika sekolah, gambaran tentang dunia kerja adalah sangat ideal: bekerja, mendapatkan upah, sejahtera. “Semua berbeda, mimpi indah pekerja muda tak terwujud,” jelasnya tentang situasinya di tempat kerja.

Di proyek PLTU SUMSEL 1, dia melihat ada banyak pelanggaran hukum. Selain upah yang di bawah UMK dan upah lembur yang tidak dibayarkan, di tempatnya bekerja tidak ada fasilitas kesehatan, tidak ada perlindungan kesehatan, alat perlindung diri yang buruk, jam kerja yang panjang, dan resiko kecelakaan kerja yang tinggi. Karena jumlah pekerja perempuan yang minoritas, terkadang ada juga perlakuan diskriminatif dan kurangnya penghargaan terhadap pekerja perempuan. “Tempat kerja yang keras dan didominasi oleh laki-laki, membuat kami mendapat diskriminasi,” kata Yolanda.

Yolanda bersama Pengurus dan Anggota SPPT GPEC - SERBUK Indonesia
Yolanda bersama Pengurus dan Anggota SPPT GPEC – SERBUK Indonesia

Hambatan besar juga dialami Yolanda karena jam kerja yang panjang di perusahaan tempatnya bekerja. Mulai kerja dari jam 7.30 pagi dan baru pulang jam 6 sore, menyisakan ancaman tersendiri. Rumahnya, harus ditempuh dengan perjalanan panjang melewati perkebunan yang sepi dan rawan bahaya. “Berangkat dan pulang kerja harus melewati perkebunan karet dan sawit yang sepi, saya khawatir dengan keselamatan saya,” keluh Yolanda.

Selain masalah diskriminasi dan pelanggaran hukum di perusahaan, di masa pandemi Covid-19, pekerja di lokasi PLTU juga mengalami perlakuan yang tidak manusiawi. Perusahaan tiba-tiba mengumumkan bahwa proyek dihentikan, lockdown, tapi upah kami juga dihentikan. Dan ketika mengirimkan pengaduan ke kantor Dinas Tenaga Kerja di Muara Enim, penanganannya sangat lambat. “pemerintah abai dan tidak berpihak pada kami,” protes Yolanda.

Melalui #IYD2020, Yolanda menaruh harapan besar agar pemerintah segera memperbaiki keadaaan. Menyiapkan penanganan pandemi secara profesional, mempersiapkan perlindungan kepada pekerja, dan memprioritaskan pada perbaikan ekonomi secara nyata. Dan kepada BWI Global Union, Yolanda memberikan dukungan agar terus menyuarakan hak-hak pekerja muda dan pekerja perempuan seperti dirinya yang menghadapi berbagai hambatan di tempat kerja. “Pekerja muda harus berdaya, syarat pertamanya serikat harus kuat,” ujar Yolanda.

Selamat merayakan #IYD2020. Amandla!

Yolanda (tengah) saat bekerja di PLTU SUMSEL 1
Yolanda (tengah) saat bekerja di PLTU SUMSEL 1

Yolanda Dwi Martika (20)
Pekerja Muda pada Proyek Konstruksi PLTU Sumsel 1
Bekerja di PT Guangdong Power Engineering Co. Ltd (Perusahaan Cina)

BAGIKAN