SEMINAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA : PERJUANGAN BERSAMA LINTAS SERIKAT BURUH MEMAJUKAN ISSUE K3

SEMINAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA :
PERJUANGAN BERSAMA LINTAS SERIKAT BURUH MEMAJUKAN ISSU K3

Perjuangan untuk menjadikan issue Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai arus utama di serikat buruh merupakan tantangan yang berat. Kondisi ini, diperparah dengan perspektif yang belum maju di kalangan serikat buruh bahwa issue K3 adalah issue nomor dua di luar issue popular lainnya seperti upah, PHK, Union Busting dan issue lainnya. Padahal, semua aktivitas di tempat kerja tidak ada yang terlepas dari jangkauan K3.

Situasi tersebut, menjadi sorotan utama para pembicara yang hadir dalam Seminar Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang bertema ‘Membangun Perjuangan Bersama Lintas Organisasi yang diinisiasi’ oleh Local Inititiative OSH Network (LION) Indonesia. Muhammad Surahmat, dari FSPMI menjelaskan bahwa regulasi yang ada memang tidak berpihak, salah satunya karena usia undang-undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) nomor 1 tahun 1970 sudah sangat tua. “Undang-undang ini sudah berusia 47 tahun. Pasti tidak sanggup lagi merespon perkembangan dunia industri yang bergerak sangat cepat,” ujar Surahmat.

Sementara pembicara lain dari DPC SPSI Kabupaten / Kota Bekasi, Fajar Winarno mencoba menyoroti keengganan serikat buruh untuk mengusung issue K3, sebab issue ini dirasakan kurang populer dan terkesan kurang menarik. “Serikat kurang berminat mengusung issue K3 sebab masih kalah bila dibandingkan dengan issue upah. Perjuangan kenaikan upah di tempat kerja menjadi lebih menarik perhatian buruh untuk terlibat sebab dampaknya langsung dirasakan. Tapi K3 ini dampaknya panjang dan tidak bisa langsung dirasakan sekarang,” Jelas Winarno dalam presentasinya.

Khamid Istakhori, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) Indonesia yang menjadi pembicara terakhir bercerita pengalamannya mengenai pengorganisasian korban Kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja. Dalam presentasinya, Khamid menawarkan adanya kampanye serius berkaitan dengan issue K3 dengan menjadikan korban K3 sebagai juru bicara utama. “Korban K3 yang dikuatkan dan mau bergabung untuk membangun organisasi secara mandiri, pada gilirannya akan berdampak besar bagi upaya perjuangan K3 di massa mendatang,” ujar Khamid. Syarat utama untuk menjadikan issue K3 populer, Khamid menawarkan 3 langkah penting yaitu memastikan serikat memiliki divisi khusus yang menangani K3, mengubah paradigma K3 melalui pendidikan rutin, dan kampanye yang serius dan terus menerus.

Berkaitan dengan kampanye, Khamid menawarkan sebuah terobosan dengan membuat materi kampanye yang menarik, mudah diakses dan secara terus menerus disosialisasikan kepada buruh di tempat kerja. “Akan menarik kalau setiap serikat mampu membuat alat kampanye sendiri. Video pendek berbasiskan kondisi nyata di tempat kerja yang dikemas menarik dan mudah dibagikan akan sangat membantu buruh belajar issue K3,” kata Khamid.

Pada sessi rekomendasi, SERBUK Indonesia menawarkan sebuah terobosan advokasi K3 yang berlandaskan pada data base. Dengan data yang nyata, akurat dan valid kita yakin advokasi K3 akan lebih mudah berhasil. Harusnya ada preseden para Pengusaha pelanggar K3 yang berdampak pada kecelakaan kerja dan bahkan menyebabkan buruh kehilangan nyawanya harus dipidanakan. Hanya dengan cara ini efek jera bagi pelanggar hukum akan efektif.

BAGIKAN