Sebuah Kota yang dihuni para pemuja, membabi buta!

Saya berada di tempat yang sangat jauh, sehingga tertinggal berita tentang bagaimana buldozer dan alat berat itu menghajar pemukiman manusia. Pemukiman yang dihuni ratusan atau ribuan manusia bertahun lamanya, beranak pinak dan berkehidupan sebagai manusia. Saya, hari ini ingin menuliskan satu kata tentang mereka dengan kata hebat : MANUSIA!

Potongan-potongan puzzle itu, berkelabatan begitu saja dalam hitungan menit bahkan detik berkelebatan dengan ribuan slide. Potongan pertama yang muncul dan muncul berulang-ulang adalah protes sekumpulan kelas menengah muda. Belum terlalu kaya, atau sebenarnya miskin juga. Dalam tayangan berkali-kali, saya memperhatikan betapa mulut mereka comel tak karuan ketika hak mereka menaiki kereta cepat terganggu. Sebut saja kereta macet karena gangguan arus listrik, atau kereta terpaksa berhenti karena diujung rel sana di sebuah stasiun ada yang longsor, atau sebut saja tumpukan antrian kereta di Manggarai berlebih sehingga keretanya tertahan di Stasiun Cawang.

Mulut mereka comelnya minta ampun. Sembarang hal mereka caci maki. Mulai dari Menteri Ignasius Jonan, Dirut KAI, kepala stasiun sampai sekuriti outsourcing di stasiun yang kewalahan mengatur lonjatan penumpang karena kemacetan jalur. Ribuan bahkan jutaan hastag, tanda pagar mereka kumandangkan. Cuit-cuitan marah mereka unjukkan, komen-komen pedas mereka unggahkan di beranda fesbuk mereka. Lalu, petisi semodel change.org mereka kuasai dalam hitungan detik. Saya, akhirnya berkesimpulan bahwa kemarahan itu, kemarahan mereka, kegelisahan mereka dan luapan caci maki mereka bukan karena kegoblokan birokrasi. Bukan karena kelambanan pelayanan. Kalau kelambanan dan birokrasi dianggap lamban, bukankah ribuan permintaan maaf sudah disampaikan. Usulan perubahan rute perjalanan sudah ditawarkan, mobil gratis bahkan disediakan sebagai kompensasi ?

Kesimpulan saya saat ini, dan ini mendekati final: kemarahan mereka yang terutama karena kepentingan dan “hak” mereka terganggu. Terampas. Terjagal. Kenyamanan mereka hilang. Itu saja. Entah peduli setan siapa penyebabnya!

Kembali ke Bukit Duri, sebuah kawasan yang saya sangat akrab. Kisaran beberapa tahun sangat lampau,saya rajin mengunjungi tempat itu karena urusan kerjaan –lebih tepatnya jadi kuli—yang membuat saya banyak berinteraksi dengan warga disana. Ada banyak dimensi disana yang muncul menghiasi seliweran berita tak berimbang di media.

Dimensi pertama adalah apa yang dimunculkan berita media bahwa Ahok, Sang Gubernur yang ambisius ini, mewakili para majikan dan kaum pemodal, berkali-kali menyatakan bahwa Jakarta harus bebas banjir-banjir-banjir! Entah apapun alasannya, maka caranya Cuma satu : gusur rumah-rumah si miskin di bantaran kali. Tak peduli berapapun harganya, tak peduli siapapun korbannya, tak peduli siapapun penantangnya, tak peduli bagaimana anak-anak disana akan sekolah. Yang penting Cuma satu : banjir maka harus digusur.

Bukankah status hukum belum jelas? Proses di Pengandilan belum usai? TAK PEDULI. Sebab para majikan tak bisa menungu. Para pemodal tak mau terlalu lama kena delay. Gusur! Ini, persis dengan cara-cara Soeharto menghadapi para pengkritiknya. Sikat duluan, bunuh duluan, gebuk duluan, urusan belakangan! Demikian Ahok telah menjelma menjasi Soeharto Kecil.

Dimensi kedua yang lainnya, tak banyak muncul ke permukaan media mainstream sebab –kita tahu—itu menganggu para bos media, para owner televisi swasta, para pemegang saham koran nasional dan sejenisnya. Padahal, di lokasi penggusuran, puluhan kamera, mobil satelit awak media, berjajar disana. Puluhan orang mereka wawancarai. Tapi tetap saja, tayangan dan persepktif media hanya mengikuti selera para makelar. Sering, berkali-kali dan terlalu sering kita mendengar keluhan wartawan muda nan idealis itu curhat mengenai kelakuan para bos mereka! Men-sensor semua berita kritis dengan perspektif tajam.

Kesimpulannya hanya satu :

Penggusuran harus dilegalkan, dan media adalah ujung tombak propaganda. Ini nyambung sebab kemudian dalam tataran media sosial, penguasaan dimiliki kelas menengah para pemuja gelap mata atas nama ilusi pembangunan, Jakarta tidak banjir, Jakarta tidak macet. Para penghuni rumah gusuran di bantaran kali, anak-anak SD yang nangis karena rumahnya hilang, mana sempat mereka bermain #hastag tanda pagar. Hidup sudah terlalu berat buat mereka untuk sekedar bercuit-cuitan!

Ah, akhirnya…..

Saya harus menerima saran berpuluh kawan untuk “bersabar” kembali ke laptop. Kembali kepada akar masalah. Kembali pada sebuah keyakinan bahwa untuk melawan –sekali lagi melawan—kelaliman penguasa itu, kita harus menurunkan ego kemarahan kita.

Kata kuncinya adalah : mendidik kembali mereka yang tergusur. Mendidik kembali mereka yang terhina. Menguatkan kembali mereka yang lapar dengan sebaik-sebaiknya pemahaman. Tanpa itu, niscaya kegagalan kita sudah tampak didepan mata. Tanpa mengajarkan kembali sebaik-baiknya perlawanan yang berbasiskan pada kekuatan si tertindas, adalah pengingkaran atas hakikat perlawanan itu sendiri. Sebab, perlawanan sejati adalah yang digerakkan oleh para korban, bukan oleh para peneliti, para pelaku survey, para pemangku hastag, direktur sebuah lembaga NGO dan sejenisnya.

Bagaimana dengan kaum muda kelas menengah nan ngehek itu?

Cepat atau lambat, mereka akan sampai pada titik tertentu ketika mereka kelak menjadi korban dan terampas haknya. … entah dimana mereka akan terampas haknya. Meskipun, kita tak sepenuhnya berharap mereka akan berubah menjadi ada dipihak kita sebab teraniaya. Kecuali sebagian kecil saja yang rela bunuh diri dalam kelasnya.

Bagi para pemuja, membabi buta adalah pasal wajib yang harus mereka lakukan demi sebuah kota yang “indah” meskipun itu berdiri diatas air mata duka jutaan orang, meskipun itu berada diatas tetesan darah kaum miskin.

Di Bukit Duri, di Kalijodo, di Kompleks Dolly Surabaya, sikap kita tetaplah sama : menolak penggusuran dan pengusiran atas nama pembangunan. Meskipun kita tahu, media tak pernah punya slot untuk kita!

Bukit Duri

Salamku untukmu! Mewakili kegundahan dan kematrahan yang amat sangat ini!

Penguasa lalim harus tetap kita lawan, meskipun kita harus bersabar entah berapa tahun lamanya menunggu bibit-bibit itu bertumbuh kembali.

Sebuah kota yang jauh, 30 September 2016

BAGIKAN