Resensi Buku: Nineteen Eighty-Four

Sampul Buku 'Nineteen Eighty-Four' karya George Orwell

Judul Asli: Nineteen Eighty-Four
Judul Terjemahan: 1984
Penerjemah: Landung Simatupang
Penerbit: Bentang
Tahun terbit: 1949 (Terbitan pertama)
Cetakan: Ketiga edisi III, Januari 2017
Dimensi buku: 397 halaman

Buku '1984' karya George Orwell
Buku ‘1984’ karya George Orwell

 

Dalam mengulas buku 1984, saya menggunakan buku cetakan ke tiga yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada Januari 2017. Penerjemah dalam cetakan ini adalah Landung Simatupang. Ia menerjemahkan dengan lugas dan sederhana, sehingga pembaca lebih mudah dalam memahami maksud pesan yang coba disampaikan oleh penulisnya. Desain sampul cetakan terbaru ini juga sangat cantik dan menarik untuk dilirik; gambar gedung-gedung megah yang memancarkan kilauan cahaya bergradasi berwarna hijau kontras, dengan sepasang mata yang mengintip dari balik sampul, seakan menegaskan, bahwa setiap laju kehidupan seseorang tidak akan lepas dari sebuah pengawasan.

George Orwell adalah seorang pengarang berkebangsaan Inggris yang juga peraih Nobel Kesusastraan. Buku yang berjudul 1984 adalah satu dari beberapa karya fenomenal yang ditulis oleh George Orwell. Selain Animal Farm, 1984 adalah buku yang sampai saat ini mempunyai tempat istimewa di hati para pembacanya. Nineteen Eighty-Four adalah sebuah satir tajam dalam bentuk novel bergenre fiksi distopia yang pertama kali diterbitkan pada 1949. Banyak yang mempercayai bahwa 1984 adalah buku yang berisi ramalan-ramalan untuk masa yang akan datang. Dan benar, sekarang ramalan-ramalan itu perlahan menjadi kenyataan dan diaminkan banyak orang. Hal itu dapat membuktikan bahwa George Orwell adalah seorang penulis yang berusaha atau bahkan telah berhasil untuk melampaui zamannya.

Pada zaman itu, dunia terbagi menjadi tiga negara besar. Negara tersebut adalah Oceania, Eurasia, dan Eastasia. Sebelum revolusi, Oceania adalah negara yang sangat menyedihkan. London —salah satu kota di provinsi Airstrip One— bukanlah kota besar yang indah seperti yang kita kenal sekarang. London dulu adalah tempat yang gelap dan kotor. Semua keadaan itu karena keserakahan dan kebijakan antar para kapitalis yang hanya menguntungkan golongannya sendiri dan menganggap kaum proletar tidak lebih dari budak.

Pasca revolusi, Oceania dikuasai oleh satu Partai yang dipimpin oleh seorang Big Brother atau Bung Besar. Pada zaman ini, Oceania bisa dikatakan sebagai negara modern, karena memiliki pemerintah sebagai pemegang pusat kekuasaan serta menerapkan konsep pemisahan kekuasaan. Selain itu, Oceania juga memiliki alat-alat kekuasaan seperti Polisi Pikiran —bertugas untuk menangkap dan mengeksekusi penjahat, walaupun kejahatannya sebatas dalam pikiran, raut wajah, dan gaya berbicara¬— dan alat-alat birokrasi seperti berbagai Kementrian.

Keadaan pasca revolusi bisa dikatakan hampir sama dengan keadaan sebelum revolusi. Dalam menjalankan kepemimpinannya, Bung Besar menggunakan cara-cara yang sangat totalitarian untuk mempertahankan kekuasaannya dengan pembenar agar Oceania tidak menjadi negara yang dikuasai oleh kaum kapitalis seperti sebelumnya. Roda pemerintahan dikendalikan oleh pemerintah yang otoriter dengan mengutamakan Polisi Pikiran dan teleskrin —papan baja berbentuk segi empat yang dapat menerima sekaligus mengirim suara dan gambar seseorang yang ada di dekatnya— untuk mengkontrol setiap tindakan dan gerak-gerik rakyatnya sehingga rakyat sama sekali tidak memiliki kebebasan. Selain teleskrin, juga ada microphone yang dipasang dan disembunyikan dibanyak tempat, termasuk toilet, yang seharusnya adalah tempat paling private justru menjadi tempat yang paling berbahaya. Melihat adanya kesatuan hukum dan kebijakan serta penanggung jawab pemerintahan yang tunggal dan juga cenderung sewenang-wenang dengan menihilkan inisiatif rakyat, maka bentuk negara Oceania dapat dikategorikan sebagai negara kesatuan dengan bentuk pemerintahan monarki, karena pemimpin negara, dalam hal ini Bung Besar. mendapatkan kekuasaannya dengan tidak melalui mekanisme pemilihan, melainkan atas kekuatan yang dimilikinya dengan cara propaganda kebencian terhadap Emmanuel Goldstein —salah satu tokoh utama Partai, yang juga setaraf dengan Bung Besar, yang dianggap musuh rakyat—.
Winston Smith —tokoh utama dalam buku ini— adalah seorang anggota Partai yang dipimpin oleh Bung Besar. Pria berumur 39 tahun ini bekerja di Kementrian Kebenaran, di dalam Departemen Rekaman. Pekerjaan Winston adalah untuk merevisi setiap pernyataan masa lalu Bung Besar di berbagai media yang dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan kenyataan yang ada. Sederhananya, tugas Winston adalah untuk memalsukan atau bahkan menghapus sejarah dan menulis ulang sejarah baru sesuai kehendak Partai yang berbalut atas kehebatan Bung Besar, walaupun dalam kebanyakan kasus kehebatan Bung Besar tidaklah pernah terjadi sama sekali. Ini dilakukan untuk menyempitkan lingkup pemikiran rakyat dan melemahkan setiap gelombang gerakan perlawanan yang dibangun oleh rakyat. Jika diklasifikasikan dalam tipe-tipe negara berdasarkan tujuan, negara Oceania termasuk dalam Polizeistaat atau negara Polisi yang mana sama sekali tidak untuk memberikan kesejahteraan pada rakyatnya, melainkan hanyalah kesejahteraan pemimpin negara dengan embel-embel untuk mempertahankan kedaulatan negara. Atau dengan kata lain, negara berkuasa mutlak atas seluruh rakyatnya, dan apabila ada yang berbeda atau bertentangan, negara tidak segan-segan untuk segera menghilangkan, menguapkan, dan bahkan mengeksekusi sang penentang atau penjahat pikiran tersebut di tempat umum sebagai peringatan untuk rakyat yang lain agar tidak melakukan perbuatan yang sama.

“Perang ialah damai. Kebebasan ialan perbudakan. Kebodohan ialang kekuatan.” adalah tiga slogan partai berbahasa Newspeak —bahasa resmi Oceania yang disusun dan berkali-kali diperbarui untuk memenuhi kebutuhan ideologi Ingsoc dan untuk menggantikan Oldspeak atau bahasa Inggris baku— yang tertempel disetiap sudut kota. Selain Polisi Pikiran, teleskrin, dan microphone, poster bergambar wajah besar yang menatap tajam dengan tulisan “Bung besar mengawasi saudara.” yang juga tertempel disetiap sudut kota, bahkan gang-gang kecil sekalipun cukup membuat siapa saja yang melihatnya bepikir dua kali untuk melakukan suatu tindakan yang sebenarnya adalah privasi, seperti, menulis buku harian, membeli barang di toko loak, dan juga untuk masalah bercinta.

Pengawasan itu semakin menegaskan bahwa pada zaman ini privasi hanyalah sebuah fantasi yang sangat sulit direalisasikan. Yang lebih buruk lagi adalah Bung Besar selalu memunculkan musuh-musuh fiktif yang mengancam negara agar rakyat dapat dikendalikan untuk melawan musuh-musuh tersebut dan membuat rakyat semakin takut dan memilih untuk berlindung dibalik rezim yang akhirnya menjadikannya instrumen yang kuat untuk semakin mengukuhkan totalitarian di negara tersebut. Hal itu dapat menjelaskan, bahwa Oceania adalah negara yang didominasi oleh kekuasaan. Dalam teori kekuasaan dan hukum, kekuasaan melihat negara sebagai kekuatan, dan oleh sebab itu negara harus memiliki hukum yang kuat pula sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan. Dalam hal ini, kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh Bung Besar. Kementrian-kementrian yang ada hanya menjalankan perintah dari Bung Besar dalam melaksanakan setiap tugasnya.

Legitimasi atas kekuasaan Bung Besar memang diakui, tapi itu semua tidak terlepas dari kritik, penolakan dan pembangkangan rakyat Oceania, termasuk Winston. Dalam sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan Partai —walaupun beberapa kali melanggar larangan-larangan kecil, seperti, bercinta dengan pelacur dan membeli barang dari pasar gelap— meski jauh di dalam hati dan pikirannya bersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Sampai pada titik dimana ia berani dan mungkin memang harus berani melawan itu semua untuk mencoba meloloskan diri dari belenggu kebohongan, pengawasan, atau hanya sekedar memuaskan nafsunya untuk membuktikan konsekuensi dari tindakan-tindakan yang pernah ia lakukan.

Walaupun pada akhirnya, duda yang pernah menjalin ikatan pernikahan dengan wanita Ortodoks —tanpa menghasilkan keturunan sehingga harus terpaksa bercerai— ini harus berakhir di Kementrian Cinta Kasih dengan peluru yang menembus otaknya setelah ia menenggak arak terakhirnya. Karena secara teoritis, bagaimanapun pergolakan yang ada di dalam sebuah negara, wewenang sebuah negara harus tetap diakui karena negara memiliki otoritas untuk menggunakan kekuasaannya dalam mengatur rakyatnya—dalam koridor positif tentunya—. Dan, manusia pun sesungguhnya akan selalu membutuhkan negara, termasuk Winston, setidaknya ia membutuhkan negara untuk sekedar melihat senyum yang tersembunyi dari kumis tebal berwarna hitam milik Bung Besar sebelum ia menghirup udara segar surga, atau mungkin neraka, atau mungkin tidak keduanya, karena Winston sendiri tidak pernah percaya hal tersebut.

BAGIKAN