Omnibus Law RUU Cipta Kerja dan Proyek Gagal Neoliberalisme di Chile

foreignpolicy.com
(Photo by Marcelo Hernandez/Getty Images)

Pada 11 septemper 1973, dengan dalih menyelamatkan negara dari Otoritarianisme, Panglima angkatan bersenjata Jenderal Augusto Jose Ramon Pinochet Ugarte memerintahkan pasukannya untuk mengepung La Moneda, istana Negara Chile tempat tinggal Presiden Salvadore Allende yang memerintah sejak 4 September 1970. Presiden kiri yang dipilih secara demokratis itu akhirnya memilih bunuh diri dengan menelan timah panas dari AK-47 pemberikan koleganya, Presiden Cuba Fidel Castro.

Atas peristiwa bunuh diri tersebut Senator Isabel Allende, putri mendiang Allende, mengatakan keluarga menerima kabar itu dengan penuh kedamaian. “Kesimpulan laporan itu konsisten dengan apa yang sudah kami yakini. Ketika dihadapkan pada keadaan ekstrem, dia membuat keputusan untuk mengambil nyawanya sendiri, bukannya dihinakan,” katanya dikutip bbc.com, 19 Juli 2011. Kudeta berdarah dengan sandi operasi ‘Jakarta’ ini berhasil menempatkan si kaki tangan Amerika Serikat yang terkenal dengan panggilan Pinochet Menjadi Presiden Chile.

Seperti tulisan Tim Weiner yang berjudul ‘membongkar kegagalan CIA. Weiner menuliskan bahwa order untuk menyingkirkan Allende sebenarnya sudah ada sejak sebelum ia memenangkan Pemilu di tahun 1970, namun usaha itu gagal. Weiner menuliskan, Henry Kissinger, penasihat Keamanan Nasional Amerika, menyetujui program politik dengan biaya $135.000 ditambah $165.000 untuk menyingkirkan Allende. CIA bekerja baik di dalam maupun luar negeri. CIA melancarkan propaganda dengan memasok bahan kepada wartawan-wartawan berpengaruh. Namun semua usaha tersebut gagal karena nyatanya Allende tetap dilantik menjadi Presiden.

Menyelamatkan negara dari otoritarianisme nyatanya cuma dalih belaka. Pinochet berkuasa dengan tangan besi, musuh-musuh politiknya dibunuh dan dipenjara tanpa proses di pengadilan —persis seperti awal orde baru berkuasa. Di bidang ekonomi Pinochet yang memang antek amerika menjalankan paket ekonomi neoliberal . Dibantu para ekonom lulusan Chicago University Amerika Serikat ia melakukan kebijakan Privatisasi dan deregulasi perdagangan. Pinochet juga menghapus kebijakan upah minimum, membuka seluas-seluasnya investasi asing dan juga membubarkan serikat buruh. Tentang neoliberalisme David Harvey dalam bukunya A Brief history of Neoliberalism (2005), Harvey mengatakan neoliberalisme adalah paham yang menekankan jaminan terhadap kemerdekaan dan kebebasan individu melalui pasar bebas, perdagangan bebas, dan penghormatan terhadap sistem kepemilikan pribadi.

Dalam waktu singkat kebijakan itu memang membawa ekonomi chile melesat, tingkat pengangguran bisa ditekan sampai dengan 4,3 persen saja. Milton Friedman pengkhutbah utama neoliberalisme menjuluki kemajuan ekonomi Chile dengan “keajaiban Chile”. Namun itu semua tidak berlangsung lama, seperti balon udara yang ditusuk perekonomian chile menjadi porak poranda. Kebijakan Neoliberalisme telah membawa Chile terjerembab dalam timbunan hutang dan lonjakan pengangguran yang sangat tinggi, 40 persen penduduk Chile tidak memiliki pekerjaan. Menyerahkan perekonomian pada mekanisme pasar sebagai doktrin utama neoliberal telah membuat distribusi kekayaan menumpuk pada segelintir orang dengan mayoritas lainnya yang menderita. Dalam catatan David Harvey (2005)masalah paling mendasar dari penerapan neoliberalisme adalah pengerukan aset dan kekayaan dari massa rakyat ke tangan segelintir kelas di dalam masyarakat dan dari negeri-negeri terkebelakang ke negeri-negeri kaya.

Sejak digaungkan sebagai jalan keluar dari krisis minyak di pertengahan tahun 1970an, nyatanya Neoliberalisme justru membuat kemalangan tak terperikan. Dengan kebijakan privatisasi banyak sekali aset negara seperti BUMN yang kemudian dimiliki swasta, hingga tugas menyejahterakan rakyat gagal dilaksanakan. Menekan perekonomian pada mekanisme pasar membuat kesenjangan sosial menjadi sangat lebar. Para buruh kehilangan perlindungan oleh negara, sebab Neoliberalisme mengharamkan campur tangan negara dalam urusan produksi.

Sejak kegagalan Neoliberalisme menyejahterakan rakyat, tak kurang banyak kritik terhadap program itu. Salah satu kritikan yang paling mendasar adalah dari Kritik Mubyarto, guru besar Fakultas Ekonomi UGM, yang mengatakan bahwa ekonomi Neoliberal tidak mampu memberikan ide distribusi kekayaan secara merata, yang konsekuensinya berkontradiktif dengan ide keadilan sosial sebagai puncak tujuan berbangsa.

Namun begitu, seperti manusia yang sudah mati akalnya, kapitalisme telah lama kehilangan logikanya, program neoliberalisme yang ajeg gagal terus saja dipaksakan sebagai jalan keluar, atas kemerosotan perekonomian yang berlangsung terus menerus.

Itu lah mengapa, ketika kita Membaca kebijakan bidang ekonomi Chile saat Pinochet berkuasa seperti membaca draft Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang sedang dibahas di DPR-RI. meskipun ada jarak yang membentang sepanjang 47 tahun.

Omnibus Law RUU Cipta Kerja adalah Proyek Neoliberalisme di Indonesia selanjutnya, begitu saya meyakini.

Sejak Orbe baru berkuasa sebenarnya negeri ini secara bertahap juga menjalankan program liberalisme baru itu, di awali dengan UU PMA 1967 Indonesia mulai membuka kran investasi asing secara ugal-ugalan. Namun, kadang kita malas belajar dari negeri sendiri. Hingga perlu jauh-kauh belajar ke Chile.

Perekonomian Chile yang terjerembab dalam kubangan krisis, yang menyebabkan mayoritas rakyatnya jatuh pada kemelaratan setelah di bawah kediktatoran Pinochet secara konsisten menjalankan proyek neoliberal, sungguh bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita. Sebagai mana Neoliberal, Omnibus Law RUU Cipta Kerja bukanlah jawaban atas krisis ekonomi.

Sudah saatnya kita bersatu padu menghentikan operasi di “Jakarta”, di gedung Rakyat itu. Gagalkan Omnibus Law.

Penulis: Happy Nur Widiamoko (Korwil SERBUK JATENG-DIY)

 

BAGIKAN