Menolak Omnibus Law, Para Pemuda ini Bersepeda dari Jogja sampai Jakarta

Pada 9-16 Juli, empat pekerja muda dari Yogyakarta berangkat ke Jakarta dengan mengayuh sepeda sejauh 551 km. Mereka melakukan perjalanan itu, sebagai bagian dari protes kepada pemerintah agar segera menghantikan pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Sesampaikan di Jakarta pada 16 Juli 2020, mereka bergabung dalam massa aksi yang besar menolak Omnibus Law dan pada hari berikutnya mereka menuju Istana Presiden untuk mengantarkan surat. Tapi, surat tersebut ditolak oleh petugas di Istana Presiden hanya karena tidak amplopnya tidak berwarna coklat. Berikut adalah surat yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, bercerita tentang nasib pekerja muda:

Yogyakarta, 9 Juli 2020.

Kepada Yth.
Bapak Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia

Di Jakarta

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kami, Fajar Setyo Nugroho (25) pekerja bengkel sepeda, Johan Ferdian Juno R (25) pekerja informal, Pepe Hidayat (23) tukang sablon yang dirumahkan, dan Riko Lesmana (21) korban phk pabrik meubel mengayuh sepeda sejauh 551 km, untuk bertemu dengan Bapak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Sepeda, adalah simbol kehidupan kami di Yogyakarta, yang mengantar kami bekerja, ke pasar, dan aktivitas keseharian kami. Sepeda tinggi ini, kami modifikasi dari sepeda-sepeda bekas sebagai bentuk kecintaan atas transportasi utama kami sehari-hari dan mengajak masyarakat untuk mencintainya.

Kami mengayuh sepeda dari Yogyakarta, melewati kota-kota, menemui masyarakat di sepanjang perjalanan, bermalam dan beristirahat di rumah-rumah penduduk, menelusuri aspal-aspal berdebu; membawa pesan keperihan hati untuk Bapak. Pandemi Covid-19, merengut pekerjaan kami dan kami kehilangan masa depan. Di pelosok-pelosok, kami tahu kehidupan tak segera membaik dan masyarakat hidup penuh kekhawatiran. Mereka berharap, Bapak fokus memimpin rakyat untuk menangani pandemi ini.

Perjalanan dari Jogja menuju Jakarta untuk Menolak Omnibus Law
Perjalanan dari Jogja menuju Jakarta untuk Menolak Omnibus Law

Pesan lain, tentu saja berkaitan dengan Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang hari ini sedang dalam pembahasan di Gedung DPR RI. Pasal demi pasal telah kami baca dan pada akhirnya, yang tersisa hanya ketertakutan tentang masa depan negeri yang kami cintai sepenuh jiwa kami. Kami membayangkan, ketika Omnibus Law RUU Cipta Kerja ini tetap dibahas dan disahkan; sumber daya alam akan dikeruk tanpa ampun, tanah-tanah pertanian akan digusur, pegunungan akan dilongsorkan, listrik akan segera diprivatisasi, dan tentu saja nasib pekerja seperti kami akan berada dalam ketidakpastian. Sepanjang perjalanan dari Yogyakarta menuju Jakarta, kami merekam semua kekhawatiran itu dalam bincang, obrolan, dan perjumpaan dengan masyarakat yang mencintai Bapak dengan hati dan jiwa yang penuh.

Mereka, rakyat yang mempertaruhkan hidup untuk mendukung Bapak, rindu kelahiran semangat dan jiwa Soekarno-Soekarno muda dari Bapak; kembali memproklamasikan Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Izinkan kami, meneruskan semua kerinduan itu dan harapan agar Bapak menghentikan pembahasan dan membatalkan rencana pengesahan Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Percayalah, Omnibus Law adalah awal keterpurukan bangsa ini, awal penderitaan rakyat di kemudian hari.

Terngiang pesan Boeng Karno, yang mencintai rakyat dan mendermakan penderitaannya hanya untuk kemakmuran rakyatnya:
“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekali pun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

Surat ini, kami bawa dari Yogyakarta, melewati kota-kota, menemui masyarakat di sepanjang perjalanan, bermalam dan beristirahat di rumah-rumah penduduk, menelusuri aspal-aspal berdebu; merekam tangis orang-orang yang mencintai Bapak dengan hati dan jiwa yang penuh. Kami, membawa pesan keperihan hati dan mengayuh harapan untuk Bapak.

Pesepeda Jogja-Jakarta, Menolak OmnibusLaw
Empat Pesepeda Jogja-Jakarta, Menolak OmnibusLaw

Salam takzim dari kami;
Fajar Setyo Nugroho
Johan Ferdian Juno R.
Pepe Hidayat
Riko Lesmana

BAGIKAN