Kebijakan Asbes yang Belum Bijak

Workshop Kebijakan Penggunaan Asbes di Indonesia

Jakarta (9/10) Indonesia Ban Asbestos Network (INA-BAN) mengundang serikat buruh untuk mengikuti workshop yang bertajuk “Kertas Posisi: Pola Kebijakan Asbes di Indonesia”. Workshop yang diadakan di Jakarta ini akan berlangsung selama dua hari.

LION Indonesia yang menginisiasi workshop ini menjelaskan bahwa serikat buruh penting untuk mengetahui tentang bahan baku berbahaya (B3) yang salah satunya adalah asbes. Karena para buruh yang bekerja di pabrik adalah orang yag pertamakali bersentuhan dengan material berbahaya ini.

Pembicara pertama dari LION Indonesia yaitu Firman mengungkapkan bahwa semua jenis asbes mengandung bahan karsinogenik, yang merupakan pemicu penyakit kanker. “Racun yang terdapat dalam bahan dasae asbes menyerang tubuh manusia secara akumulatif, dan manusia yang secara terus menerus menghirup debu asbes akan terkena penyakit kanker dan menyebabkan kematian.” Tambahnya.

Menurut data WHO, setiap tahun 255.000 penduduk di seluruh Dunia meninggal dunia akibat penyakit yang berhubungan dengan paparan asbes. Philip sebagai perwakilan dari Apheda menjelaskan bahwa bahan asbes merupakan serat yang sangat lembut, bertekstur tajam, dan tidak bisa terurai. Maka ketika masuk ke dalam tubuh manusia, asbes akan mengendap dan ini sangat berbahaya di kemudian hari.

Rosadi seorang buruh yang bekerja di pabrik asbes dan merupakan anggota dari SERBUK Indonesia yang juga mengikuti workshop ini mengatakan bahwa masalah yang cukup mendasar dari bahaya asbes adalah lemahnya regulasi yang ada di Indonesia. “Ketika peraturannya tidak ada, maka penggunaan bahan asbes akan terus berjalan.” Tegasnya.

Hari ini workshop akan banyak membahas tentang rekomendasi bersama tentang upaya untuk menghentikan penggunaan asbes di Indonesia. Karena cara yang paling efisien dalam menghilangkan penyakit akibat asbes ini adalah dengan cara menghentikan penggunaan semua jenis asbes.

 

BAGIKAN