Destiana Rahmasari: IWD 2019, AKSI PERTAMAKU!

Namaku Destiana Rahmasari,kawan-kawan biasa memanggilku dengan sebutan Desti. Selain menjadi mahasiswi di Sekolah Tinggi Hukuk Indonesia (STHI) Jentera, aku juga aktif dalam beberapa kegiatan, terutama untuk isu anak-anak, kesehatan perempuan, dan pengenalan mengenai HIV/AIDS untuk anak-anak remaja.

Dunia hukum menjadi keseharian yang menantang, bukan saja karena aku kuliah di kampus Pembaru Hukum, tapi karena menurutku dunia hukum itu dinamis. Semua kehidupan kita bersinggungan dengan hukum, selama 24 jam sehari. ”Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, bahkan tidur pun, hukum ada di sekitar kita,” ungkapnya tentang tantangan dunia hukum.

“Hukum hidup dan berkembang di masyarakat,” tegas Desti. Menurutnya, kehidupan masyarakat yang berkembang sangat pesat, kadang-kadang bergerak lebih cepat melebihi kesiapan hukum dalam menganitisipasinya. Sebut saja bagaimana hukum mengenai transportasi, “Pemerintah seolah ketinggalan dalam merespon perkembangan moda transportasi online yang sekarang ini menjadi andalan masyarakat,” ujar Mahasiswi Jurusan Hukum Bisnis STHI Jentera ini.

Foto Desti saat Aksi IWD pertamanya
Foto Desti saat Aksi IWD pertamanya

Lalu bagaimana kesan atas keikutsertaannya dalam aksi Hari Perempuan Internasional (IWD) di Jakarta? “Ini adalah aksi pertama saya bersama kawan-kawan buruh, buruh perempuan,” ujarnya malu-malu. Aksi pertama, yang menurutnya sangat berkesan karena hari itu, dia dan kawan-kawannya tidak sekedar melihat aksi dari video atau foto, tapi ikut terlibat langsung. “Semangatnya luar biasa, militansinya mengagumkan, saya ketularan spiritnya,” tegas Desti.

Terkait dengan kehidupan kaum perempuan, Desti berpandangan bahwa kaum perempuan, seharusnya terus berkembang dan berdaya, menjadi kuat dan tidak menyerah pada keadaan. “Selama ini, perempuan seolah pasrah dengan kodratnya, hidup di rumah, tenggelam dalam urusan domestik, ini harus berubah,” tutur Desti.

Baginya, aksi IWD 2019 memberikan banyak inspirasi. Pemecut semangat agar dirinya juga meneladani kehebatan mereka yang berjuang. ”Saya merasa larut dalam kekaguman dengan mereka semua. Orasi dan pandangan politik mereka maju, saya harus banyak belajar,” tekad Desti.

Aksi IWD 2019 sudah berlalu, tapi masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar. Rumit. Menurut Desti, Pemerintah harus terus menerus didesak agar menjadikan isu perempuan sebagai arus utama, bukan pinggiran. Menurutnya, kepedulian pemerintah harus ditingkatkan lagi, memberikan ruang yang seluas-luasnya, bukan saja dalam pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksinya, tapi juga dalam partisipasi politiknya. “Perempuan harus maju dalam aktivitas politik, tak boleh dikekang oleh siapapun,” tegas Desti.

Desti benar, memajukan bangsa tanpa memajukan kaum perempuan adalah kekeliruan besar, sebab perempuan adalah pilar utama kehidupan sebuah bangsa, sepertinya yang pernah dinyatakan oleh Sastrawan Pamoedya Ananta Toer dalam novel sejarah, Jejak Langkah: “Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu. Semua puji-pujian untukMu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat dan gerang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan.”

 

BAGIKAN